Kamis, 29 Mei 2014

100 days

100 days
Kita tidak  bisa menebak rencana apa yang akan Tuhan berikan. Kadang hal-hal  indah  yang Tuhan janjikan  harus melalui proses  panjang, dan menyakitkan. Seperti yang di alami Rere.
Sejak pertemuannya dengan seorang pelayan di sebuah cafe karena ketidaksengajaan pun berlanjut,sejak saat itu pula hari-harinya penuh dengan sejuta warna dan kebahagian.
********
Rere memasuki salah satu cafe yang berderet di sepanjang jalan. Ia yang tidak membawa mantel merasa membutuhkan sesuatu untuk menghangatkan tubuhnya sekaligus menunggu sampai hujan berhenti turun. Rere duduk di salah satu bangku yang kosong di cafe tersebut dan memesan secangkir kopi hangat untuknya. Saat ia memutuskan untuk pergi ke kamar kecil tanpa sengaja ia menabrak seorang pria yang sedang membawa kopi pesanan milik pelanggan. Bunyi cangkir yang berbenturan dengan lantai memecah keheningan suasana malam itu. Tatapan dari beberapa pengunjung pun terarah kepada mereka.
“ah~ maafkan, aku tadi tidak melihatmu’’ ucap Rere yang merasa bersalah.
tidak apa,seharusnya aku-lah yang meminta maaf karena telah membuat pakaian mu kotor seperti ini “ ucap pelayan itu.
Rere yang sedari tadi sibuk membersihkan pakaiannya akhirnya mendongakkan kepalanya. Ia sedikit terlonjak kaget saat melihat pelayan yang ada di depannya. Pelayan itu terlihat begitu  sempurna dengan rambut kecoklatan dan sedikit acak-acakan di bagian depannya,menurut Rere ia lebih terlihat sebagai seorang jelmaan malaikat bukan seorang pelayan. Rere tak bergerak seinchi pun dari tempatnya berdiri karena ia begitu terpaku melihat sosok yang ada di hadapannya saat itu.
“apa kau tak apa-apa nona?’’ pelayan itu menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Rere.
Diam. Rere masih terpaku dengan apa yang ia lihat saat itu dan tak ada jawaban yang terlontar dari bibir mungil Rere. Tubuhnya serasa membeku.
“nona apa kau baik-baik saja” tanyanya lagi.
Sontak Rere terbangun dari lamunannya,ia merasa malu dengan kebodohannya. Ia tak dapat menampik pesona dari pria yang ada di depannya saat itu.
“eh, tidak. Aku tak apa-apa. Sekali lagi aku minta maaf telah mengacaukan pekerjaan mu” ucapnya lalu membungkuk.
“aku sudah bilang kau tak salah,akulah yang salah. Maaf atas ketidak kenyamanannya”.
“biar aku bantu membersihkan tumpahan kopi ini” tawar Rere.
“tidak usah nona,biar pelayan ku yang membersihkannya” jawabnya.
“pelayanku? Bukankah dia juga seorang pelayan? entahlah “ batin Rere.
pelayan itu pun berlalu meninggalkan Rere yang sebelumnya sempat mengucapkan selamat berpisah.
“Tuhan apakah dia malaikat? Kenapa rasanya hatiku berdegup kencang saat mengingatnya? Apakah aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya?” pertanyaan itu memenuhi benak Rere.
Beberapa menit setelah berada di kamar kecil, ia pun kembali ke bangkunya. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat pelayan itu telah berpenampilan rapi tidak seperti yang ia kenakan beberapa menit yang lalu. Pelayan itu jauh lebih tampan dengan berpenampilan casual.
Deg.. napas Rere terasa tercekat,pria itu tersenyum ke arahnya. Ia berjalan lambat ke bangku yang tadi ia tempati. Rere masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Tuhan,kejutan apalagi ini? apa dia ingin menuntutku?” ucapnya dalam hati.
“nona,apa kau baik-baik saja?” ia beranjak dari tempat duduknya,detik berikutnya Rere  mengangguk memastikan bahwa dia dalam keadaan baik.
Pelayan itu menarikkan kursi untuk Rere agar duduk di sebelahnya. Rere menarik napas dalam-dalam memasok oksigen yang ada di paru-parunya. Jantungnya seakan berpacu dua kali lipat dari biasanya.
“bolehkah aku duduk di sini?” tanyanya.
“bukankah tadi kau sudah duduk di sini?” guraunya. Wajah Rere mendadak berubah kemerahan layaknya kepiting rebus saat melihat senyum manis dari pelayan itu.
“maaf tentang kejadian barusan. Oh ya perkenalkan namaku Lian pemilik cafe sekaligus salah satu staff di cafe ini. Bolehkah aku tahu siapa nama mu?”
“seharusnya aku yang minta maaf. Perkenalkan namaku Rere,senang bisa berkenalan denganmu Lian” sapanya ramah.
“nama yang cantik,sesuai dengan orangnya” pujinya dan Rere tersipu malu dengan pujian yang di berikan Lian.
Mereka berdua akhirnya menghabiskan malam itu untuk saling berbincang hingga akhirnya tanpa di sadari hujan yang turun di luar berhenti. Akhirnya Rere memutuskan untuk pulang yang sebelumnya sempat di tawari Lian untuk di antar ke rumahnya namun ia menolaknya. Ia lebih memilih jalan kaki karena rumahnya tak jauh dari cafe .
*******
Semenjak pertemuan pertama mereka. Rere selalu menyempatkan diri untuk mampir ke cafe milik Lian hanya untuk sekedar melihat Lian bekerja ataupun memesan kopi hangat kesukaannya.
Hari itu mereka telah membuat janji untuk pergi kesebuah toko buku. Rere mengajak Lian untuk menemaninya ke toko buku yang tak jauh dari cafe milik Lian.
“sudah siap?”  Lian memastikan.
eum,aku siap” jawab Rere nampak ragu.
“kau berpeganganlah di sini” Lian pun menuntun tangan Rere untuk melingkarkan tangannya di perutnya.
ya, baiklah” rasa canggung sekaligus bahagia tak bisa di sembunyikan dari balik wajah Rere.
Motor Lian pun membelah jalanan kota yang cukup padat sore itu. Meskipun musim penghujan namun suasana jalan banyak berlalu lalang kendaraan baik roda dua atau pun roda empat. 
Rere,kau tau.. kau adalah orang pertama yang boleh menaiki motor ini selain diriku” Ucap Lian sambil melihat wajah Rere dari pantulan kaca spion motor putihnya.
benarkah ?Rere tak percaya.
ya , tentu saja. Mana pernah aku berbohong padamu” ucap Lian terkekeh dan menunjukan senyum simpul khasnya.
“dan kau tahu Lian,ini adalah pengalaman pertamaku di bonceng oleh seorang pria” Rere terlihat serius.
“berarti kau selama ini tak pernah di bonceng oleh pria mana pun selain diriku? benarkah? Mungkin pria-pria di luar sana takut memboncengmu karena kau terlalu berat untuk di bonceng” ledeknya.
Rere mengerucutkan bibirnya yang terlihat sangat menggemaskan, Lian pun tak luput mendapatkan pukulan di lengan kirinya. Sepanjang perjalanan mereka habiskan untuk berdebat, tak ada yang mau mengalah satu sama lain.
Mereka berdua akhirnya sampai di depan toko buku yang di tuju. Rere tanpa sengaja menarik tangan Lian dan membuat keduanya merasa canggung.
“eh, maaf Lian tangan ini lancang” ucap Rere menarik tangannya dengan kasar.
ah ~ tak apa, aku bahkan senang mendapat perlakuan seperti tadi “  Lian pun merangkul pundak Rere.
Mereka berkeliling mengitari toko buku yang di terbilang luas untuk mendapatkan buku yang di cari. Setelah hampir satu jam berada di dalam toko, akhirnya buku yang di cari pun di temukan.
Lian .. Aku sudah mendapatkan buku yang aku cari” teriak Rere dari balik rak buku.
“euhm.. baiklah,ayo kita ke kasirLian pun menghampiri Rere dengan beberapa buku yang ada di tangannya.
“buku apakah itu? “ tanya Rere penasaran.
“ini beberapa buku tentang Leukemia” jawab Lian enteng.
Leukemia? untuk apa kau membelinya? Apa kau sakit?” selidik Rere penuh keheranan.
“ini hanya untuk bahan bacaanku saja, kau tak perlu berpikir yang tidak-tidak dan tak perlu kau khawatir. Lihat aku sehat begini bukan! “ jawabnya sambil tersenyum penuh arti. Rere pun berusaha untuk tidak berpikiran buruk. Mereka pun membayar beberapa buku yang di beli kemudian Lian meminta Rere untuk menemaninya ke game center karena Lian ingin membeli beberapa disc game kesukaannya
 Rere ,maukah kau menemani ku ke game center? Sebentar saja. Mau ya? bujuk Lian.
“ya baiklah. Apapun yang kau minta pasti akan aku turuti karena hari ini kau mau mengantarku ke toko buku” goda Rere.
Rere anak nakal.. awas yateriak Lian.
“apa kau bilang ! beraninya kau bilang seperti itu. Rasakan ini” Rere melayangkan pukulan di lengan Lian lagi dan itu membuat Lian meringis kesakitan akibat membangunkan anak singa dari tidurnya.
aw .. sakit Rere-ku ” lontar Lian.
Rere sontak menghentikan aksinya saat Lian memanggilnya dengan sebutan Rere-ku.
Rere-ku?Rere tampak tak mengerti.
ya, Rere-ku” jawab Lian dengan penuh penekanan setiap katanya.
“sejak kapan kau menjadi kekasihku?” ledek Rere.
“memang kau tak menyukaiku? Aku sangat yakin kau juga suka denganku karena seorang Lian tak akan pernah mendapat penolakan dari wanita manapun. Dalam kamus ku tidak ada kata penolakan. Mengerti !” ucap Lian dengan penuh percaya diri.
aku tak percaya, kau jangan terlalu percaya diri karena aku bukan seperti wanita-wanita yang ada di luar sana. Rere pun berlalu meninggalkan Lian karena kesal.
Rere .. tunggu” teriak Lian saat Rere beranjak pergi meninggalkannya, Rere menggerutu dengan dirinya sendiri.
Detik berikutnya terdengar sebuah pengumuman dari salah satu speaker yang ada di game center tersebut. Suara itu menggema hampir di seluruh penjuru ruangan.
“aku Lian berdiri disini untuk mengumumkan sebuah pengumuman penting” suara itu menggema.
ya Tuhan, apa yang akan di lakukan oleh LianRere keheranan.
“untuk seseorang wanita yang berdiri di sana, Rere. Meskipun kita baru kenal tapi aku merasa kau adalah bagian dari takdirku. Takdir yang telah Tuhan berikan untukku. Semenjak kau muncul dalam hidupku akhir-akhir ini,hidup ini menjadi lebih berwarna lagi. Rere aku mencintai mu sungguh,aku sangat-sangat mencintaimupapar Lian.
Setelah suara itu menghilang, Lian pun menghampiri Rere membawakan seikat balon, ia juga menyanyikan sebuah lagu  romantis sebagai ungkapan rasa hatinya.
Rere.. Aku mencintaimu.. aku sangat mencintai mu lebih dari diriku. apa kau mau menjadi bagian dari takdirku?” ucap Lian dan ia pun berlutut di depan wanita pujaannya. Rere menangis terharu sekaligus bahagia karena mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa dari seseorang yang sangat ia cintai.
iya aku juga mencintaimu. Sangat-sangat mencintai mu dan aku mau menjadi bagian dari takdirmu” ucap Rere.
Lian pun akhirnya memeluk Rere erat dan mengusap air mata Rere dengan ibu jarinya ,mereka berdua menjadi tontonan beberapa pengunjung yang ada di pusat perbelanjaan tersebut. Suara riuh dari pengunjung pun membuat mereka berdua merasa sedikit canggung.
terima kasih“ ucap mereka bersamaan sambil membungkuk berkali-kali.
Hari telah berganti menjadi malam. Udara di luar pun terasa sangat dingin. Tak banyak orang yang berlalu lalang. Lian mengantarkan Rere pulang ke rumahnya yang tak jauh dari tempat ia bekerja.
“terima kasih untuk hari yang indah ini,hari yang tak akan pernah aku lupakan sepanjang hidupku” Rere pun memberi kecupan manis di kening Lian seketika Lian membatu.
Rere pun berjalan memasuki rumahnya meninggalkan Lian. Saat bayangan Rere telah hilang di balik pintu tiba-tiba darah segar mengalir dari hidung Lian. Ia segera mengusapnya lalu berlalu meninggalkan rumah kekasihnya.
******

Saat Lian terbangun dari tidurnya yang terasa hanyalah rasa sakit yang amat sangat dan cairan merah lagi-lagi keluar dari hidung mancungnya. Lian adalah salah satu dari sekian banyak penderita leukemia.
Sudah hampir dua tahun belakangan ia mengidap penyakit yang membuat hampir setiap nyawa penderitanya melayang.
Lian mencoba untuk bangun dari tidurnya karena pagi itu ia memiliki janji yang penting dengan Rere. Namun apa daya saat dia berusaha berdiri, Lian tak dapat menopang tubuhnya sendiri.
Lian jatuh tersungkur ke lantai dan menyenggol gelas air minum yang ada di atas meja di sebelah tempat tidurnya.
Bunyi dentuman dan kaca pecah terdengar sampai lantai bawah sontak membuat Kirana kakak perempuan Lian berlari menuju pusat suara tersebut memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.
Lian.. buka pintunya. Apa kau baik-baik saja di dalam?” suara Kirana terdengar seperti berteriak.
Tak ada sahutan dari si pemilik kamar, Kirana mencoba untuk tidak panik terlebih dahulu. Ia sekali lagi mengetuk pintu kamar adiknya.
Lian.. bukakan pintunya atau pintu ini akan kakak buka secara paksa!! ” lagi-lagi tak ada jawaban dari dalam kamar.
Kirana pun memanggil pelayan untuk mendobrak paksa pintu kamar adiknya. Tak lama pintu kamar itu terbuka dan ia pun melihat adiknya tergeletak lemas di lantai dengan aliran darah yang keluar dari hidung. Bau anyir darah tercium jelas.
Lian.. bangunlah,bangun.. Lian jangan tinggalkan kakak sendirian. Aku mohon” air mata Kirana mengalir dan jatuh membasahi pipi Lian yang saat berada di pangkuannya.
Pagi itu Rere merias bagian mata di depan cermin besar kamarnya. Ia tak sabar akan bertemu dengan malaikat penjaganya. Dengan berbalut gaun selutut berwarna merah maroon ia tampak semakin anggun. Ia dengan sabar menanti kedatangan Lian di ruang tengah rumahnya meski masih 30 menit lebih awal dari waktu janjian,tapi entah tiba-tiba ada firasat buruk yang sedari menghampiri dirinya.
Satu jam dua jam ia menunggu namun nihil. Sosok yang di tunggu tak juga datang. berkali-kali Rere menggirimkan pesan untuknya tetapi tak ada jawaban dari Lian. Hal itulah yang membuat Rere semakin cemas.
*****
Lian pun akhirnya di rujuk ke rumah sakit di  Amerika untuk mendapatkan perawatan yang memadai. Saat Lian terbangun,dia mencium aroma yang sangat menyengat menghampiri hidungnya. Bau yang sangat dia benci. Saat dia membuka mata dilihat ruangan penuh dengan nuansa putih yang berbeda sekali dengan ruangannya yang bernuansa biru warna favoritnya. Saat dia ingin mengangkat sebelah tangannya ia melihat ada yang sedang tertidur di lengannya yang tak lain adalah kakak perempuannya. Kirana bergeliat dan bangun dari tidurnya.
Lian kau sudah sadar? Syukurlah kalau begitu. Kakak sangat mengkhawatirkanmu” ucapnya
Lian hanya dapat mengangguk memastikan semuanya baik-baik saja. Ia tersenyum simpul melihat kakaknya yang setia menunggunya.
“kakak akan panggilkan dokter dulu ya untuk memastikan semuanya dalam keadaan baik” ucap Kirana lagi.
Menit berikutnya dokter dan perawat datang memeriksa keadaan Lian. Setelah Lian di periksa oleh dokter spesialis, Lian pun mempunyai permintaan dengan sang kakak.
kakak~ bolehkan aku meminjam ponselmu sebentar saja” ucapnya lirih bahkan hampir tak terdengar oleh Kirana.
“istirahatlah,kondisi mu belum pulih benar” ucapnya.
“aku mohon,aku hanya ingin memberi tahu Rere agar ia tak mengkhawatirkan keadaanku” ucapnya terbata-bata.
baiklah tetapi setelah ini kau istirahatlah. Kata dokter kau harus banyak istirahatKirana memberikan ponsel miliknya dan Lian pun berusaha untuk menulis pesan untuk seseorang yang berada di seberang sana. Seseorang yang pasti mengkhawatirkan keadaannya karena beberapa hari belakangan tak ada kabar darinya.
Rere.. maaf karena aku tak dapat menepati janji kita tempo lalu  karena aku ada urusan bisnis mendadak di perusahaan ayahku. Aku  akan berada di Jepang selama beberapa minggu ke depan untuk mengurus bisnis ayah. Tunggu aku 100 hari lagi dan berjanjilah selama kau menungguku, kau akan selalu membawakan bunga anggrek ke cafe milik ku..mengerti.
Aku sangat mencintai mu Rere,sangat mencintai mu lebih dari nyawaku.
Jaga kesehatanmu selama aku tak ada.
pesan untuk Rere pun terkirim, setetes air mata keluar membasahi pipinya yang tampak pucat.
******

Hari demi hari Rere lalui tanpa Lian di sampingnya. Setelah dari kampus Rere selalu menyempatkan diri untuk bersinggah di cafe milik Lian dengan membawa bunga anggrek setiap harinya. Entah apa maksud di balik itu semua Rere tak mengerti. Yang jelas yang ia tahu hanyalah bunga anggrek terlihat sangat indah seperti Lian di matanya.
Lian.. aku merindukan mu ,kenapa kau menghukumku seperi ini huh! Lian kau jahat. Kau membuatku harus menunggu selama seratus hari dan apa maksud dari semua ini ? Maksud dari bunga anggrek ini” Rere yang duduk sendirian di bangku dekat jendela terlihat sedang menitihkan air mata.
Rere memang tidak di beri tahu oleh Lian bahwa ia memiliki penyakit yang sangat dekat dengan kematian yaitu Leukemia. Lian tidak mau gadisnya harus mengetahui penyakitnya. Mungkin ini terbilang jahat atau apalah tapi semenjak Lian di pertemukan dengan Rere, Lian lebih bersemangat menjalani hidup dalam menghadapi sakit yang di derita.
Karena rasa penasarannya Rere mencari arti di balik bunga anggrek. Menit berikutnya ia mendapatkan hasil pencariannya. Selain bunganya yang begitu menakjubkan tak di sangka ada makna indah di balik itu semua. Rere sekarang sedikit mengerti dengan apa yang di maksud oleh Lian,dan ia berjanji akan menepati itu semua demi penantian 100 harinya.
*****
Pagi itu tak seperti biasanya,langit hitam gelap dan di luar sana rintikan air hujan membasahi pepohonan dan jalanan. Hari itu tepat hari ke 100 kepergian Lian untuk berobat. Rere bersiap-siap untuk menyambut kedatangan Lian, entah kenapa Rere hari ini ingin mengenakan gaun serba hitam. Rere mengenakan gaun berenda selutut tanpa lengan dengan di padukan sepatu berhak datar berwarna senada.
Saat  ia tiba di cafe tetapi  cafe itu tutup dan hal yang paling mengejutkannya adalah saat beberapa karangan bunga ucapan berbela sungkawa berjejer di depan pintu masuk cafe. Tertera nama yang sangat tidak asing baginya yaitu Lian.
Rere tak dapat menerka apa maksud di balik semua itu, ia berusaha untuk tidak berfikiran negatif. Saat ada pelayan yang keluar dari cafe ia mencoba bertanya dengannya, memastikan bahwa yang di maksud bukanlah Liannya yang meninggal.
maaf paman, siapakah yang meninggal? Kenapa banyak karangan bunga bertuliskan nama Lian?” ucapnya.
Lian pemilik cafe ini meninggal tadi pagi setelah dia harus berperang melawan penyakitnya. Lian mengidap sakit leukemia,yah..Leukimia,anak nakal itu kenapa kau harus pergi begitu cepat” mata paman itu terlihat berkaca-kaca.
Hati Rere bagaikan tersambar oleh petir,awan hitam menggelayutinya. Bunga anggrek yang di bawanya jatuh begitu saja. Hujan deras kian mengguyur seperti air matanya. Ia pun memutuskan untuk ke rumah Lian. Melihat Lian untuk terakhir kalinya. Melihat sosok malaikat dalam tidur panjangnya.
Lian.. kenapa kau pergi begitu cepat, kenapa kau meninggalkanku sendirian di sini.. kau bilang kau berkerja untuk bisnis ayahmu tapi…” Rere tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi.
Rere menangis sesenggukan melihat takdir yang begitu pahit di rasanya. Kirana memegang pundak Rere. Ia memberikan sebuah pesan yang di tulis adiknya sebelum menghembuskan napas untuk terakhir kalinya. Ia mencoba terlihat tegar di depan Rere sesuai pesan Lian meski itu semua tidaklah mudah.
Maafkan aku Rere ..sungguh aku tidak ada maksud untuk membohongi semua ini tapi kaulah salah satu alasanku hidup sampai hari terakhirku, aku tidak menyesal kalau harus mengalah dengan penyakit bodoh ini tapi percayalah kau adalah anugerah terindah yang Tuhan telah kirimkan untukku..hiduplah untukku dan kenanglah aku sebagai salah satu bagian dari takdirmu..terima untuk semuanya. Aku sangat mencintaimu.
Kau harus baik-baik saja tanpa ku.
Di lembar surat itu terlihat tetesan bekas air mata dari Lian. Ia harus menahan kesakitan saat menulisnya.
“aku juga mencintai mu Lian,terima kasih  untuk semuanya” ucapnya berusaha tetap tegar. Mengamati Lian untuk terakhir kalinya dan memberikan kecupan di kening sebagai ucapan perpisahan.
“aku janji akan selalu mengenang kebaikanmu,tenanglah di surga sana dan tunggulah aku karena aku yakin kita kelak akan di pertemukan kembali dalam dimensi yang berbeda” batinnya.
THE END