100 days
Kita tidak
bisa menebak rencana apa yang akan Tuhan berikan. Kadang hal-hal indah yang Tuhan
janjikan harus melalui proses panjang, dan menyakitkan. Seperti yang di alami Rere.
Sejak pertemuannya dengan seorang pelayan di sebuah
cafe karena ketidaksengajaan pun berlanjut,sejak saat itu pula hari-harinya
penuh dengan sejuta warna dan kebahagian.
********
Rere memasuki salah
satu cafe yang berderet di sepanjang jalan. Ia yang tidak membawa mantel merasa
membutuhkan sesuatu untuk menghangatkan tubuhnya sekaligus menunggu sampai hujan
berhenti turun. Rere duduk di salah satu bangku yang kosong di cafe tersebut
dan memesan secangkir kopi hangat untuknya. Saat ia memutuskan untuk pergi ke kamar
kecil tanpa sengaja ia menabrak seorang pria yang sedang membawa kopi pesanan milik pelanggan. Bunyi cangkir yang
berbenturan dengan lantai memecah keheningan suasana malam itu. Tatapan dari beberapa pengunjung
pun terarah kepada mereka.
“ah~ maafkan, aku tadi
tidak melihatmu’’ ucap Rere yang merasa bersalah.
“tidak apa,seharusnya
aku-lah yang meminta maaf karena telah membuat pakaian mu kotor seperti ini “ ucap pelayan itu.
Rere yang sedari tadi sibuk
membersihkan pakaiannya akhirnya mendongakkan kepalanya. Ia sedikit terlonjak
kaget saat melihat pelayan yang ada di depannya. Pelayan itu terlihat begitu sempurna dengan rambut kecoklatan dan sedikit
acak-acakan di bagian depannya,menurut Rere ia lebih terlihat sebagai seorang jelmaan
malaikat bukan seorang pelayan. Rere tak bergerak seinchi pun dari tempatnya berdiri
karena ia begitu terpaku melihat sosok yang ada di hadapannya saat itu.
“apa kau tak apa-apa
nona?’’ pelayan itu menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Rere.
Diam. Rere masih terpaku
dengan apa yang ia lihat saat itu dan tak ada jawaban yang terlontar dari bibir
mungil Rere. Tubuhnya serasa membeku.
“nona apa kau baik-baik
saja” tanyanya lagi.
Sontak Rere terbangun dari
lamunannya,ia merasa malu dengan kebodohannya. Ia tak dapat menampik pesona
dari pria yang ada di depannya saat itu.
“eh, tidak. Aku tak
apa-apa. Sekali lagi aku minta maaf telah mengacaukan pekerjaan mu” ucapnya
lalu membungkuk.
“aku sudah bilang kau tak
salah,akulah yang salah. Maaf atas ketidak kenyamanannya”.
“biar aku bantu membersihkan
tumpahan kopi ini” tawar Rere.
“tidak usah nona,biar
pelayan ku yang membersihkannya” jawabnya.
“pelayanku? Bukankah dia
juga seorang pelayan? entahlah “ batin Rere.
pelayan itu pun berlalu
meninggalkan Rere yang sebelumnya sempat mengucapkan selamat berpisah.
“Tuhan apakah dia
malaikat? Kenapa rasanya hatiku berdegup kencang saat mengingatnya? Apakah aku
jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya?” pertanyaan itu memenuhi benak Rere.
Beberapa menit setelah
berada di kamar kecil, ia pun kembali ke bangkunya. Dan betapa terkejutnya ia saat
melihat pelayan itu telah berpenampilan rapi tidak seperti yang ia kenakan
beberapa menit yang lalu. Pelayan itu jauh lebih tampan dengan berpenampilan
casual.
Deg.. napas Rere terasa tercekat,pria itu
tersenyum ke arahnya. Ia berjalan lambat ke bangku yang tadi ia tempati. Rere masih
tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Tuhan,kejutan apalagi
ini? apa dia ingin menuntutku?” ucapnya dalam hati.
“nona,apa kau baik-baik
saja?” ia beranjak dari tempat duduknya,detik berikutnya Rere mengangguk memastikan bahwa dia dalam keadaan
baik.
Pelayan itu menarikkan
kursi untuk Rere agar duduk di sebelahnya. Rere menarik napas dalam-dalam
memasok oksigen yang ada di paru-parunya. Jantungnya seakan berpacu dua kali
lipat dari biasanya.
“bolehkah aku duduk di
sini?” tanyanya.
“bukankah tadi kau sudah
duduk di sini?” guraunya. Wajah Rere mendadak berubah kemerahan layaknya
kepiting rebus saat melihat senyum manis dari pelayan itu.
“maaf tentang kejadian
barusan. Oh ya perkenalkan namaku Lian pemilik cafe sekaligus salah satu staff
di cafe ini. Bolehkah aku tahu siapa nama mu?”
“seharusnya aku yang minta
maaf. Perkenalkan namaku Rere,senang bisa berkenalan denganmu Lian” sapanya
ramah.
“nama yang cantik,sesuai
dengan orangnya” pujinya dan Rere tersipu malu dengan pujian yang di berikan
Lian.
Mereka berdua akhirnya
menghabiskan malam itu untuk saling berbincang hingga akhirnya tanpa di sadari hujan
yang turun di luar berhenti. Akhirnya Rere memutuskan untuk pulang yang sebelumnya
sempat di tawari Lian untuk di antar ke rumahnya namun ia menolaknya. Ia lebih
memilih jalan kaki karena rumahnya tak jauh dari cafe .
*******
Semenjak pertemuan pertama
mereka. Rere selalu menyempatkan diri untuk mampir ke cafe milik Lian hanya
untuk sekedar melihat Lian bekerja ataupun memesan kopi hangat kesukaannya.
Hari itu mereka telah
membuat janji untuk pergi kesebuah toko buku. Rere mengajak Lian untuk
menemaninya ke toko buku yang tak jauh dari cafe milik Lian.
“sudah
siap?” Lian memastikan.
“eum,aku siap” jawab Rere nampak ragu.
“kau
berpeganganlah di sini” Lian pun menuntun tangan Rere untuk melingkarkan
tangannya di
perutnya.
“ya, baiklah” rasa canggung sekaligus bahagia
tak bisa di sembunyikan dari balik wajah Rere.
Motor Lian pun membelah jalanan kota yang cukup
padat sore itu. Meskipun musim penghujan namun suasana
jalan banyak berlalu lalang kendaraan baik roda dua atau pun roda empat.
“Rere,kau tau.. kau adalah orang pertama yang boleh menaiki motor ini selain diriku” Ucap Lian sambil melihat wajah Rere dari pantulan kaca spion motor putihnya.
“Rere,kau tau.. kau adalah orang pertama yang boleh menaiki motor ini selain diriku” Ucap Lian sambil melihat wajah Rere dari pantulan kaca spion motor putihnya.
“benarkah ?“ Rere tak
percaya.
“ya , tentu saja. Mana pernah aku berbohong padamu” ucap Lian terkekeh dan menunjukan senyum
simpul khasnya.
“dan kau tahu Lian,ini adalah pengalaman
pertamaku di bonceng oleh seorang pria” Rere terlihat serius.
“berarti kau selama ini tak pernah di bonceng
oleh pria mana pun selain diriku? benarkah? Mungkin pria-pria di luar sana takut
memboncengmu karena kau terlalu berat untuk di bonceng” ledeknya.
Rere mengerucutkan bibirnya yang terlihat
sangat menggemaskan, Lian pun tak luput mendapatkan pukulan di lengan kirinya.
Sepanjang perjalanan mereka habiskan untuk berdebat, tak ada yang mau mengalah
satu sama lain.
Mereka berdua akhirnya sampai di depan toko buku yang di
tuju. Rere tanpa sengaja menarik tangan Lian dan membuat keduanya merasa
canggung.
“eh, maaf Lian tangan ini lancang” ucap Rere menarik tangannya dengan kasar.
“ah ~ tak apa,
aku bahkan senang mendapat perlakuan
seperti tadi “ Lian pun merangkul pundak Rere.
Mereka berkeliling mengitari toko buku yang di
terbilang luas untuk
mendapatkan buku yang di cari. Setelah hampir satu jam
berada di dalam toko, akhirnya buku yang di cari pun di temukan.
“Lian .. Aku sudah mendapatkan buku yang aku cari” teriak Rere dari balik rak buku.
“Lian .. Aku sudah mendapatkan buku yang aku cari” teriak Rere dari balik rak buku.
“euhm..
baiklah,ayo kita ke kasir ” Lian pun menghampiri Rere dengan beberapa buku yang ada di
tangannya.
“buku
apakah itu? “ tanya Rere penasaran.
“ini
beberapa buku tentang Leukemia” jawab Lian enteng.
“Leukemia? untuk apa kau membelinya? Apa kau sakit?”
selidik Rere penuh
keheranan.
“ini
hanya untuk bahan bacaanku saja, kau tak perlu berpikir yang
tidak-tidak dan tak perlu kau khawatir. Lihat aku sehat begini bukan! “ jawabnya sambil tersenyum
penuh arti. Rere pun berusaha untuk tidak berpikiran buruk. Mereka pun membayar beberapa buku
yang di beli kemudian Lian meminta Rere untuk menemaninya ke game center karena Lian
ingin membeli beberapa disc game kesukaannya
“Rere ,maukah kau menemani ku ke game center? Sebentar
saja. Mau ya?” bujuk Lian.
“ya baiklah. Apapun yang kau minta pasti akan
aku turuti karena hari ini kau mau mengantarku ke toko buku” goda Rere.
“Rere anak nakal..
awas ya” teriak Lian.
“apa kau bilang ! beraninya kau bilang seperti
itu. Rasakan ini” Rere melayangkan pukulan di lengan Lian lagi dan itu membuat
Lian meringis kesakitan akibat membangunkan anak singa dari tidurnya.
“aw .. sakit Rere-ku
” lontar Lian.
Rere sontak menghentikan aksinya saat Lian memanggilnya dengan sebutan Rere-ku.
“Rere-ku? “ Rere tampak tak
mengerti.
“ya, Rere-ku” jawab Lian dengan penuh penekanan setiap
katanya.
“sejak
kapan kau menjadi kekasihku?” ledek Rere.
“memang
kau tak menyukaiku? Aku sangat yakin kau juga suka denganku
karena seorang Lian tak akan pernah mendapat penolakan dari wanita manapun. Dalam kamus ku tidak ada kata penolakan. Mengerti !” ucap Lian dengan penuh percaya diri.
“aku tak percaya, kau jangan terlalu percaya diri
karena aku bukan seperti wanita-wanita yang ada di luar sana. ” Rere pun berlalu meninggalkan Lian karena
kesal.
“Rere .. tunggu”
teriak Lian saat Rere beranjak pergi meninggalkannya, Rere menggerutu dengan
dirinya sendiri.
Detik berikutnya terdengar sebuah pengumuman dari salah
satu speaker yang ada di game center tersebut. Suara itu menggema hampir di seluruh penjuru ruangan.
“aku Lian berdiri disini untuk mengumumkan
sebuah pengumuman penting” suara itu menggema.
“ya Tuhan, apa yang akan di lakukan oleh Lian” Rere keheranan.
“untuk
seseorang wanita yang berdiri di sana, Rere. Meskipun kita baru kenal tapi aku
merasa kau adalah bagian dari takdirku. Takdir yang telah Tuhan berikan
untukku. Semenjak kau muncul dalam hidupku akhir-akhir ini,hidup ini menjadi
lebih berwarna lagi. Rere aku mencintai mu … sungguh,aku sangat-sangat
mencintaimu” papar Lian.
Setelah
suara itu menghilang, Lian pun menghampiri Rere membawakan seikat balon, ia juga menyanyikan sebuah lagu romantis sebagai ungkapan rasa
hatinya.
“Rere.. Aku
mencintaimu.. aku sangat mencintai mu lebih dari diriku. apa kau mau menjadi
bagian dari takdirku?” ucap Lian dan ia pun berlutut di depan wanita pujaannya.
Rere menangis terharu sekaligus bahagia karena mendapatkan perlakuan yang
sangat istimewa dari seseorang yang sangat ia cintai.
“iya aku juga
mencintaimu. Sangat-sangat mencintai mu dan aku mau menjadi bagian dari
takdirmu” ucap Rere.
Lian pun akhirnya memeluk Rere erat dan
mengusap air mata Rere dengan ibu jarinya ,mereka berdua menjadi tontonan beberapa
pengunjung yang ada di pusat perbelanjaan tersebut. Suara riuh dari pengunjung
pun membuat mereka berdua merasa sedikit canggung.
“terima kasih“ ucap mereka bersamaan sambil
membungkuk berkali-kali.
Hari telah berganti menjadi malam. Udara di luar pun terasa sangat
dingin. Tak banyak orang yang berlalu lalang. Lian mengantarkan Rere pulang ke rumahnya yang tak jauh
dari tempat ia bekerja.
“terima kasih untuk hari yang indah ini,hari
yang tak akan pernah aku lupakan sepanjang hidupku” Rere pun memberi kecupan
manis di kening Lian seketika Lian membatu.
Rere pun berjalan memasuki rumahnya meninggalkan Lian. Saat
bayangan Rere telah hilang di balik pintu tiba-tiba darah segar mengalir dari
hidung Lian. Ia segera mengusapnya lalu berlalu meninggalkan rumah kekasihnya.
******
Saat Lian terbangun dari tidurnya yang
terasa hanyalah rasa sakit yang amat sangat dan cairan merah lagi-lagi keluar
dari hidung mancungnya. Lian adalah salah satu dari
sekian banyak penderita leukemia.
Sudah hampir dua tahun belakangan ia mengidap penyakit yang
membuat hampir setiap nyawa penderitanya melayang.
Lian mencoba untuk bangun dari tidurnya karena pagi itu ia
memiliki janji yang penting dengan Rere. Namun apa daya saat dia berusaha berdiri, Lian tak dapat menopang tubuhnya sendiri.
Lian jatuh tersungkur ke lantai dan menyenggol gelas air minum yang ada di atas meja di sebelah tempat tidurnya.
Bunyi dentuman dan kaca pecah terdengar sampai lantai bawah sontak membuat
Kirana kakak perempuan Lian berlari menuju pusat suara tersebut
memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.
“Lian.. buka pintunya. Apa kau
baik-baik saja di dalam?” suara
Kirana terdengar seperti berteriak.
Tak ada sahutan
dari si pemilik kamar, Kirana mencoba untuk tidak panik terlebih dahulu. Ia sekali lagi mengetuk
pintu kamar adiknya.
“Lian.. bukakan pintunya atau pintu ini akan kakak buka secara paksa!! ” lagi-lagi tak ada
jawaban dari dalam kamar.
Kirana pun memanggil pelayan untuk mendobrak paksa pintu kamar adiknya. Tak lama pintu kamar itu terbuka dan ia pun melihat adiknya tergeletak lemas di lantai dengan aliran darah yang keluar dari
hidung. Bau anyir darah tercium jelas.
“Lian.. bangunlah,bangun.. Lian jangan tinggalkan kakak
sendirian. Aku mohon” air
mata Kirana mengalir dan jatuh membasahi pipi Lian yang saat berada di pangkuannya.
Pagi itu Rere merias
bagian mata di depan cermin besar kamarnya. Ia tak sabar akan bertemu dengan malaikat penjaganya. Dengan berbalut gaun
selutut berwarna merah maroon ia tampak semakin anggun. Ia
dengan sabar menanti kedatangan Lian
di ruang tengah rumahnya meski masih 30 menit lebih awal dari waktu janjian,tapi entah tiba-tiba ada firasat buruk yang sedari menghampiri dirinya.
Satu jam dua jam ia menunggu namun nihil. Sosok yang
di tunggu tak juga datang. berkali-kali Rere menggirimkan pesan untuknya
tetapi tak ada jawaban dari Lian. Hal itulah
yang membuat Rere semakin cemas.
*****
Lian pun akhirnya di rujuk
ke rumah sakit di Amerika
untuk mendapatkan perawatan yang memadai. Saat Lian terbangun,dia mencium
aroma yang sangat menyengat menghampiri hidungnya. Bau yang sangat dia benci. Saat dia membuka
mata dilihat ruangan penuh dengan nuansa putih yang berbeda sekali dengan
ruangannya yang bernuansa biru warna favoritnya. Saat dia ingin mengangkat sebelah tangannya ia melihat ada yang sedang tertidur
di lengannya
yang tak lain adalah
kakak perempuannya. Kirana bergeliat dan bangun dari tidurnya.
“Lian kau sudah sadar? Syukurlah kalau
begitu. Kakak sangat mengkhawatirkanmu” ucapnya
Lian hanya dapat mengangguk memastikan semuanya
baik-baik saja. Ia tersenyum simpul melihat kakaknya yang setia
menunggunya.
“kakak akan panggilkan dokter dulu ya untuk
memastikan semuanya dalam
keadaan baik” ucap Kirana lagi.
Menit berikutnya dokter dan perawat datang
memeriksa keadaan Lian. Setelah Lian di periksa oleh dokter spesialis, Lian pun mempunyai permintaan dengan sang kakak.
“kakak~ bolehkan aku meminjam ponselmu sebentar saja” ucapnya lirih bahkan hampir
tak terdengar oleh Kirana.
“istirahatlah,kondisi mu belum pulih benar”
ucapnya.
“aku mohon,aku hanya ingin memberi tahu Rere agar
ia tak mengkhawatirkan keadaanku” ucapnya terbata-bata.
“baiklah tetapi setelah ini kau istirahatlah.
Kata dokter kau harus banyak istirahat” Kirana memberikan ponsel miliknya dan Lian pun berusaha untuk menulis
pesan untuk seseorang yang berada di seberang sana. Seseorang yang pasti mengkhawatirkan
keadaannya karena beberapa hari belakangan tak ada kabar darinya.
Rere.. maaf karena aku tak dapat menepati janji kita tempo lalu karena aku ada urusan bisnis
mendadak di perusahaan ayahku. Aku akan berada di Jepang selama beberapa minggu
ke depan untuk mengurus bisnis ayah.
Tunggu aku 100
hari lagi dan berjanjilah selama kau menungguku, kau akan selalu membawakan bunga anggrek ke
cafe
milik ku..mengerti.
Aku sangat mencintai mu Rere,sangat mencintai mu lebih
dari nyawaku.
Jaga kesehatanmu selama aku tak ada.
pesan
untuk Rere
pun terkirim, setetes air
mata keluar membasahi pipinya yang
tampak pucat.
******
Hari demi hari Rere lalui tanpa Lian di
sampingnya. Setelah dari kampus Rere selalu menyempatkan
diri untuk bersinggah di cafe milik Lian dengan membawa bunga
anggrek setiap harinya. Entah apa maksud di balik itu semua Rere tak
mengerti. Yang jelas yang ia tahu hanyalah bunga anggrek terlihat
sangat indah seperti Lian di matanya.
“Lian.. aku
merindukan mu ,kenapa kau menghukumku seperi ini huh! Lian kau jahat. Kau membuatku harus menunggu selama seratus hari
dan apa maksud
dari semua ini ?
Maksud dari bunga anggrek ini” Rere yang duduk sendirian
di bangku dekat jendela terlihat sedang menitihkan air mata.
Rere memang tidak di beri tahu oleh Lian bahwa ia memiliki penyakit yang sangat dekat
dengan kematian yaitu Leukemia.
Lian tidak mau gadisnya harus mengetahui penyakitnya. Mungkin ini terbilang jahat atau apalah
tapi semenjak Lian di pertemukan dengan Rere, Lian lebih bersemangat menjalani hidup dalam
menghadapi sakit yang di derita.
Karena rasa penasarannya Rere mencari arti di balik bunga
anggrek. Menit berikutnya ia mendapatkan hasil pencariannya. Selain bunganya yang
begitu menakjubkan tak di sangka ada makna indah di balik itu semua. Rere sekarang
sedikit mengerti dengan apa yang di maksud oleh Lian,dan ia berjanji akan
menepati itu semua demi penantian 100 harinya.
*****
Pagi itu tak seperti biasanya,langit hitam gelap
dan di luar sana rintikan air hujan membasahi pepohonan dan jalanan. Hari itu tepat
hari ke 100 kepergian Lian untuk berobat. Rere bersiap-siap untuk menyambut
kedatangan Lian, entah kenapa Rere hari ini ingin mengenakan gaun serba hitam. Rere
mengenakan gaun berenda selutut
tanpa lengan dengan di padukan sepatu berhak datar berwarna senada.
Saat ia tiba di cafe tetapi cafe itu tutup dan hal yang paling mengejutkannya adalah saat beberapa karangan bunga
ucapan berbela sungkawa berjejer di depan pintu masuk cafe. Tertera nama yang sangat tidak
asing baginya yaitu Lian.
Rere tak dapat menerka apa maksud di balik
semua itu, ia berusaha untuk tidak berfikiran negatif. Saat ada pelayan yang
keluar dari cafe ia mencoba bertanya dengannya, memastikan bahwa yang di maksud
bukanlah Liannya yang meninggal.
“maaf paman, siapakah yang meninggal? Kenapa
banyak karangan bunga bertuliskan nama Lian?” ucapnya.
“Lian pemilik cafe ini meninggal tadi pagi setelah dia
harus berperang melawan penyakitnya. Lian mengidap sakit leukemia,yah..Leukimia,anak nakal itu kenapa kau
harus pergi begitu cepat” mata paman itu terlihat
berkaca-kaca.
Hati Rere bagaikan tersambar oleh petir,awan hitam menggelayutinya. Bunga
anggrek yang di bawanya jatuh begitu saja. Hujan deras kian mengguyur
seperti air matanya. Ia pun memutuskan untuk ke rumah Lian. Melihat Lian untuk terakhir kalinya. Melihat
sosok malaikat dalam tidur panjangnya.
“Lian.. kenapa kau pergi begitu cepat,
kenapa kau meninggalkanku sendirian di sini.. kau bilang kau berkerja untuk
bisnis ayahmu tapi…” Rere tak dapat melanjutkan kata-katanya
lagi.
Rere menangis sesenggukan melihat takdir yang
begitu pahit di rasanya. Kirana memegang pundak
Rere. Ia memberikan sebuah pesan yang di
tulis adiknya sebelum menghembuskan napas untuk terakhir kalinya. Ia mencoba
terlihat tegar di depan Rere sesuai pesan Lian meski itu semua tidaklah mudah.
Maafkan aku Rere ..sungguh aku tidak ada maksud untuk
membohongi semua ini tapi kaulah salah satu alasanku hidup sampai hari
terakhirku, aku tidak menyesal kalau harus mengalah dengan penyakit bodoh ini
tapi percayalah kau adalah anugerah terindah yang Tuhan telah kirimkan
untukku..hiduplah untukku dan kenanglah aku sebagai salah satu bagian dari takdirmu..terima
untuk semuanya. Aku sangat mencintaimu.
Kau harus baik-baik saja tanpa ku.
Di lembar surat itu
terlihat tetesan bekas air mata dari Lian. Ia harus menahan kesakitan saat
menulisnya.
“aku juga mencintai mu Lian,terima kasih untuk semuanya” ucapnya berusaha tetap tegar.
Mengamati Lian untuk terakhir kalinya dan memberikan kecupan di kening sebagai
ucapan perpisahan.
“aku janji akan selalu mengenang
kebaikanmu,tenanglah di surga sana dan tunggulah aku karena aku yakin kita
kelak akan di pertemukan kembali dalam dimensi yang berbeda” batinnya.
THE END