Title
: Himawan (bunga matahari) = bahasa
jepang
Cast
:
Ayaka
(main cast)
Hitoshi
(main cast)
Kenzi
Daichi
Takayama
Genre :
Romance
Disclaimer
: Biarkanlah cinta tak berbalas bila memang harus di nikmati,mencintai tanpa
memiliki memang menyakitkan namun rasanya cinta bertepuk sebelah tangan
bukanlah akhir dari segalanya.
Himawan
Seharusnya aku tak mempunyai rasa ini
Seharusnya aku tak mengenalmu
Andai perasaan ini dapat aku cegah,
Aku tak ingin memilikinya
Terlalu sakit
Sungguh
Di dalam hati ini
Kata
demi kata Ayaka tulis dalam buku diary-nya. Ia lebih suka
mengungkapkannya dalam bentuk tulisan di bandingkan harus bercerita dengan
orang lain . Ayaka menghirup oksigen dalam-dalam serasa ada yang
begitu sesak dalam dadanya.
“Tuhan,apakah aku memang di takdirkan hanya
untuk menjadi pengagum rahasianya? Jika itu kehendakmu aku terima namun jika
aku boleh meminta aku tak ingin hanya sekedar menjadi pengagumnya melainkan
menjadi sesuatu yang special dalam bagian hidupnya” harapnya kala itu.
Ayaka memendam rasa itu hampir setahun belakangan
semenjak ia duduk di semester awal, entah kenapa ia begitu mengaguminya tetapi
yang jelas ia begitu bahagia saat dapat melihatnya meski dalam jarak yang cukup
jauh. Ia tak punya cukup keberanian untuk mengungkapkannya secara Ayaka menganggap dirinya bukanlah siapa-siapa dan dengan beraninya mengungkapkan pernyataan cinta dengan seseorang yang menurutnya jelas begitu
sulit untuk digapainya.
Siang
itu Ayaka telah selesai mengikuti salah satu mata kuliah, ia hendak menuju ke parkiran yang
tak jauh, ia melihat sosok yang
tak asing lagi baginya. Tatapan Ayaka seolah
memburu mengamati setiap gerik dari target yang menurutnya sangat sulit di
gapai yaitu,Kenzi.
Kenzi mahasiswa
fakultas design yang banyak di gandrungi di kalangan mahasiswi. Selain karena
fisiknya yang menunjang, ia juga di kenal karena kepandaiannya dan kekayaan
yang di miliki oleh orang tuanya. Ia juga di kenal karena kedinginannya.
“bengong
terus,entar kesambet loh. Seperti ayam milik tetanggaku yang tiba-tiba mati
karena bengong seperti mu” tegur Hitoshi.
“kau
selalu saja mengangetiku Hitoshi ~ kun ,siapa juga yang lagi bengong? Aku hanya
ehm ~” elak Ayaka.
“kau
pasti sedang mengamati Kenzi, apa sih spesialnya dia sampai-sampai membuat mu
seperti ini?”
“entahlah,
aku juga tak mengerti. Aku bagaikan bunga matahari yang hanya menatap satu
bintang yaitu matahari tanpa ia pernah memalingkan wajahnya sedetik pun untuk
ku. Kasihan bukan? Andai aku tak punya perasaan seperti ini pasti tidak akan
merasakan sesak dan sakit,saat aku bunga matahari dapat memeluk matahari tetapi
itulah hanya mimpi” paparnya.
Hitoshi
merasa tak enak hati dengan pertanyaanya. Ia bersahabat dengan Ayaka semenjak
duduk di high school. Ia berusaha memberikan semangat dengan mengelus bahu sahabatnya.
“andai
kau tahu Ayaka ~ chan, jauh di dalam lubuk hati ku terdalam aku menyukai mu
sejak pertama kali aku bertemu dengan mu. Saat aku tak megenal siapa pun di
sekolah, kau lah yang pertama kali menjadi teman ku. Sejak saat itulah perasaan
itu tumbuh dengan sendirinya sampai saat ini tak berubah” ucapnya dalam hati.
******
Saat
musim semi tiba hampir semua jalanan berubah
warna menjadi lautan pink nan memukau. Musim
semi adalah saatnya kelahiran kembali bagi alam dan perayaan manusia di seluruh
negeri. Ayaka duduk di salah satu bangku taman yang di penuhi oleh bunga sakura
yang bermekaran. Ia seperti biasa berkutat dengan buku diary miliknya dan
beberapa novel fantasi kesukaannya.
Kau hanya terlalu berharga untuk ku raih.
Kau terlalu indah di ujung sana
Cukup bagi ku untuk menjadi rumput liar bagi
mu.
Meski kau adalah oksigen dalam kehidupan ku.
Hari itu
Ayaka telah memiliki janji dengan Hitoshi, ia hendak menemani Hitoshi membeli
sebuah hadiah ulang tahun untuk okaasannya.
“Ayaka ~
chan” teriaknya sambil sesekali melambaikan tangan.
Ayaka beranjak
melangkah menghampiri Hitoshi yang telah memanggil namanya dan melambai-lambai
padanya. Ia sedikit kerepotan dengan beberapa buku yang ia bawa. Tanpa ia
sadari buku diary-nya terjatuh di bawah bangku.
“kau
sudah lama menunggu ku?” tanya Hitoshi
Ayaka
hanya mengangguk meng-iya-kan jawabannya. Mereka akhirnya pergi ke sebuah toko
pernak-pernik tak jauh dari kampus Tohoku.
Menit
berikutnya saat mereka berdua telah pergi dari taman, Kenzi dengan dua orang
temannya berjalan ke arah taman. Tak
sengaja kakinya menginjak sebuah benda.
“apa
ini?” tanyanya.
“buku
diary” gumamnya.
Buku
bersampulkan bunga matahari itu kemudian ia buka, lembar demi lembar ia baca dengan
sangat seksama.
“Daichi
~ kun.. kau tahu siapa itu Ayaka~ chan?” tanyanya kepada salah seorang
temannya.
“Ayaka?
bukankah ia mahasiswi kesenian semester tiga” jawab Takayama yang duduk di
sampingnya.
“ada apa
dengan Ayaka ~ chan?”
Kenzi
tak menjawab, ia malahan menyerahkan buku bersampul bunga matahari itu. Detik
berikutnya ke dua teman Kenzi itu pun melakukan aktivitas yang sama dengan
Kenzi sebelumnya.
“ jadi
selama ini gadis itu diam-diam mengamati mu” tawa kedua teman Kenzi pecah.
“aku
harus membuat perhitungan dengannya besok beraninya ia menguntitku”
seringainya.
Kenzi
memang tak suka ada orang lain yang mengamati kehidupannya, ia terlihat kaku
dan dingin dengan orang-orang di sekitarnya. Hanya beberapa dari mereka yang
bisa menjadi teman Kenzi.
Di lain tempat, Ayaka dan
Hitoshi terlihat sedang sibuk memilih beberapa barang yang ada di etalase toko.
Ayaka berjalan ke arah salah satu dress yang terpajang di toko tersebut, ia
sepertinya tertarik dengan gaun itu karena gaun itu berwarna biru safir, warna
favoritnya.
“ kau
mau membelinya?” tanya Hitoshi.
“sepertinya
aku tertarik dengan gaun ini” balasnya.
“ambilah
jika kau mau, biar aku yang membayarnya” jelasnya.
“tapi
ini cukup mahal Hitoshi ~ kun” tolaknya.
“tak apa
Ayaka ~ chan,anggap saja ini sebagai kado persahabatan kita selama ini dan aku
juga baru mendapatkan gaji pertama ku” jelasnya.
“baiklah,jika
itu mau mu. Dōmo arigatō gozaimasu Hitoshi ~ kun” ia
sedikit membungkuk.
“tapi
ada satu syarat.. kau harus memakainya besok”
Ayaka
tanpa ragu mengiyakan persyaratan yang di ajukan Hitoshi. Mereka akhirnya
membayar barang belanjaan yang telah mereka pilih sebelumnya. Satu jam tangan
gold untuk ibu Hitoshi dan gaun biru safir untuk Ayaka.
*****
Sinar matahari berhasil masuk ke
dalam kamar Ayaka melalui cerah-cerah jendela. Ia sedikit terusik dengan cahaya
itu.. Ia bergeliat dan duduk di dekat jendela kamarnya, mengamati orang yang
lalu lalang di pagi hari dan melihat keindahan bunga sakura yang bermekaran. Kicauan
burung di musim semi juga menambah
keindahan pagi itu. Setelah hampir setengah jam ia duduk, akhirnya Ayaka
bergegas menuju kamar mandi. Menit berikutnya ia telah berganti dengan gaun
biru sapir semata kaki yang telah di belikan oleh Hitoshi kemarin. Ia duduk di depan
meja rias dan memoleskan bedak tipis ke parasnya. Setelah di rasa cukup ia
merapikan rambut cokelatnya dan segera pergi ke kampus.
Tak
butuh waktu lama untuk ia sampai di kampus, hanya butuh 30 menit . Ayaka
melangkah dengan pasti tetapi ada sesuatu yang aneh di rasanya. Setiap pasang
mata memandang sinis kepadanya.
“apa ada
yang salah dengan penampilanku? “ batinnya.
“hei
kau.. yang di ujung sana.. yang memakai gaun biru sapir” teriak Kenzi.
Ayaka
seolah tak percaya, ia hanya mematung dan tak bergerak seinchi pun.
“kau
Ayaka kan?” tanyanya.
“Tuhan
mimpi apa aku semalam, Kenzi mengenalku? Apa aku sedang bermimpi tapi kenapa
rasanya seperti nyata?” batinnya lagi.
“kenapa
kau malahan bengong seperti itu, kaget aku tahu siapa nama mu” Ayaka masih
membisu dan ia tak percaya dengan penglihatan dan pendengarannya.
“ini buku
diary mu,aku menemukannya kemarin di taman” Kenzi menyerahkan buku bersampul
bunga matahari tersebut.
“Kenzi ~
san kau tak membacanya kan?” tanyanya ragu.
“menurutmu”
Kenzi balik bertanya.
“dengarkan
baik-baik, aku sudah membaca semua isi buku diary mu. Aku juga sudah tahu semua
isi rahasia mu, berhentilah menjadi penguntitku karena aku tak suka kau
menguntitku selama ini,mengamati setiap gerik ku. Aku tak suka jika ada orang
lain mengganggu hidupku” ketusnya.
Semua
orang yang mendengar uperkataan Kenzi tertawa sinis dan miris saat melihatnya,
cairan bening itu hampir saja jatuh begitu saja dari pelupuk matanya jika
Hitoshi tak datang. Hitoshi memakaikan earphone miliknya dan menggenggam erat
tangan Ayaka. Detik berikutnya Ayaka berlari pergi meninggalkan Hitoshi yang
meradang, ia berlari dalam tangisnya dan sesekali mengusap air mata yang telah
membasahi pipinya.
“Ayaka ~
chan...” teriaknya tetapi seseorang yang di panggilnya sudah tak dapat di lihat
oleh panca inderanya.
Hitoshi
mengepalkan tangannya, ia tak rela jika sahabatnya sekaligus orang yang ia
sayangi di permalukan di depan umum.
“kau tak
seharusnya memperlakukan Ayaka seperti itu dan tak seharusnya pula Ayaka
mencintai seseorang seperti diri mu. Seseorang yang tak punya hati” Hitoshi
melayangkan tinjuan di pipi Kenzi hingga kebiruan dan mengeluarkan sedikit
cairan merah di sudut bibirnya,
“jika
kau tak meminta maaf padanya,aku pastikan salah satu dari kaki mu tak berfungsi
dengan baik” ancamnya.
Hitoshi
merupakan salah satu atlet karate, ia telah berhasil memegang sabut hitam dan
telah memenangkan beberapa kejuaraan lomba karate.
Ayaka duduk di taman seperti
biasa, ia masih menagis. Hitoshi berjalan mendekat, mendekap tubuh Ayaka
mungkin dengan cara itu Ayaka sedikit lebih tenang. Ayaka bersandar di bahu
Hitoshi dan Hitoshi hanya bisa mengelus-elus rambut cokelat Ayaka.
“seharusnya
aku tidak mempunyai perasaan ini Hitoshi ~ kun, andai aku tak memiliki rasa ini
pasti aku tak akan merasakan sakit. Cinta bertepuk sebelah tangan memang cinta
yang menyedihkan dan sangat menyakitkan” Hitoshi menatap dalam mata Ayaka dan
mengusap air mata Ayaka dengan ibu jarinya.
“kau tak
boleh menyalahkan perasaan mu Ayaka ~ chan. Seharusnya Kenzi berterima kasih
karena telah di cintai orang sebaik diri mu” hiburnya.
“Ayaka ~
chan, apa aku boleh mengatakan sesuatu pada mu. Sebenarnya ini bukanlah waktu
yang tepat tetapi aku tak bisa lama lagi memendamnya dan kau juga tak perlu
menjawab jika kau belum tahu jawabannya” Hitoshi menggenggam tangan Ayaka
kembali menatap manik mata biru Ayaka.
“Ayaka ~
chan.. sejak pertemuan kita pertama kali di high school, aku merasakan ada
sesuatu yang berbeda di sini.. di hati ku. Setiap kali berhadapan dengan mu jantung ini tak berkerja seperti biasanya. Melihat senyum mu membuat
kadar oksigen dalam paru-paru ku menipis. Saat bersama mu aku merasa damai. Aku
tak henti-hentinya memikirkan mu. Aku tak suka jika kau membicarakan Kenzi. Anata
ga daisuki desu Ayaka ~ chan”
Ayaka
terdiam terpaku, ia tak menyangka mendapat penyataan cinta dari sahabatnya
sendiri. Ia nyaris tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ayaka menarik napas
dalam-dalam, mencoba menjernihkan pikirannya dan detik berikutnya ia bersiap
untuk menjawab perasaan Hitoshi.
“maaf
Hitoshi ~ kun aku belum bisa membalas perasaan mu, aku terlalu kaget
mendapatkan kejutan seperti ini. Aku tak mau menerima mu di saat diriku seperti
ini,aku butuh waktu untuk menjernihkan semua pikiran yang ada dalam benak ku
saat ini. Terima kasih kau telah sudi mencintai seseorang seperti ku” ucapnya.
Hitoshi
memeluk Ayaka erat, tenang.. itulah perasaan Hitoshi saat mendekap erat tubuh
Ayaka.
“baikalah,aku
bisa mengerti itu semua. Sekarang aku jauh lebih lega karena tak menyimpan
perasaanku lagi pada mu Ayaka ~ chan” jelasnya, ia memperlihatkan senyum
simpulnya.
“kita
masih bisa bersahabat kan? “ tanya Ayaka.
“tentu
saja, sampai kapan pun tak ada yang merubahnya” ujar Hitoshi
“yeah,
sampai kapan pun. Janji “ mereka saling menautkan jari kelingking mereka dan
tersenyum simpul.
Dalam hidup terlalu banyak hal
yang tak terduga dan tak akan pernah terlupakan. Canda tawa dan air mata selalu
mengiringi. Cinta bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan tetapi lebih
menyakitkan saat kita kehilangan seseorang yang benar-benar menyayangi kita
yaitu sahabat.
The End