Senin, 30 Juni 2014

Himawan ( bunga matahari )



Title :  Himawan (bunga matahari) = bahasa jepang
Cast : 
Ayaka (main cast)
Hitoshi (main cast)
Kenzi
Daichi
Takayama
Genre : Romance
Disclaimer : Biarkanlah cinta tak berbalas bila memang harus di nikmati,mencintai tanpa memiliki memang menyakitkan namun rasanya cinta bertepuk sebelah tangan bukanlah akhir dari segalanya.

Himawan
Seharusnya aku tak mempunyai rasa ini
Seharusnya aku tak mengenalmu
Andai perasaan ini dapat aku cegah,
Aku tak ingin memilikinya
Terlalu sakit
Sungguh
Di dalam hati ini
                Kata demi kata Ayaka tulis dalam buku diary-nya. Ia lebih suka mengungkapkannya dalam bentuk tulisan di bandingkan harus bercerita dengan orang lain . Ayaka menghirup oksigen dalam-dalam serasa ada yang begitu sesak dalam dadanya.
Tuhan,apakah aku memang di takdirkan hanya untuk menjadi pengagum rahasianya? Jika itu kehendakmu aku terima namun jika aku boleh meminta aku tak ingin hanya sekedar menjadi pengagumnya melainkan menjadi sesuatu yang special dalam bagian hidupnya  harapnya kala itu.
Ayaka memendam rasa itu hampir setahun belakangan semenjak ia duduk di semester awal, entah kenapa ia begitu mengaguminya tetapi yang jelas ia begitu bahagia saat dapat melihatnya meski dalam jarak yang cukup jauh. Ia tak punya cukup keberanian untuk mengungkapkannya secara Ayaka menganggap dirinya bukanlah siapa-siapa dan dengan beraninya mengungkapkan pernyataan cinta dengan seseorang yang menurutnya jelas begitu sulit untuk digapainya.
                Siang itu Ayaka telah selesai mengikuti salah satu mata kuliah, ia hendak menuju ke parkiran yang tak jauh, ia melihat sosok yang tak asing lagi baginya. Tatapan Ayaka seolah memburu mengamati setiap gerik dari target yang menurutnya sangat sulit di gapai yaitu,Kenzi.
Kenzi mahasiswa fakultas design yang banyak di gandrungi di kalangan mahasiswi. Selain karena fisiknya yang menunjang, ia juga di kenal karena kepandaiannya dan kekayaan yang di miliki oleh orang tuanya. Ia juga di kenal karena kedinginannya.
“bengong terus,entar kesambet loh. Seperti ayam milik tetanggaku yang tiba-tiba mati karena bengong seperti mu”  tegur Hitoshi.
“kau selalu saja mengangetiku Hitoshi ~ kun ,siapa juga yang lagi bengong? Aku hanya ehm ~” elak Ayaka.
“kau pasti sedang mengamati Kenzi, apa sih spesialnya dia sampai-sampai membuat mu seperti ini?”
“entahlah, aku juga tak mengerti. Aku bagaikan bunga matahari yang hanya menatap satu bintang yaitu matahari tanpa ia pernah memalingkan wajahnya sedetik pun untuk ku. Kasihan bukan? Andai aku tak punya perasaan seperti ini pasti tidak akan merasakan sesak dan sakit,saat aku bunga matahari dapat memeluk matahari tetapi itulah hanya mimpi” paparnya.
Hitoshi merasa tak enak hati dengan pertanyaanya. Ia bersahabat dengan Ayaka semenjak duduk di high school. Ia berusaha memberikan semangat dengan mengelus bahu sahabatnya.
“andai kau tahu Ayaka ~ chan, jauh di dalam lubuk hati ku terdalam aku menyukai mu sejak pertama kali aku bertemu dengan mu. Saat aku tak megenal siapa pun di sekolah, kau lah yang pertama kali menjadi teman ku. Sejak saat itulah perasaan itu tumbuh dengan sendirinya sampai saat ini tak berubah” ucapnya dalam hati.
******
Saat musim semi tiba hampir semua jalanan berubah warna menjadi lautan pink nan memukau. Musim semi adalah saatnya kelahiran kembali bagi alam dan perayaan manusia di seluruh negeri. Ayaka duduk di salah satu bangku taman yang di penuhi oleh bunga sakura yang bermekaran. Ia seperti biasa berkutat dengan buku diary miliknya dan beberapa novel fantasi kesukaannya.
Kau hanya terlalu berharga untuk ku raih.
Kau terlalu indah di ujung sana
Cukup bagi ku untuk menjadi rumput liar bagi mu.
Meski kau adalah oksigen dalam kehidupan ku.
Hari itu Ayaka telah memiliki janji dengan Hitoshi, ia hendak menemani Hitoshi membeli sebuah hadiah ulang tahun untuk okaasannya.
“Ayaka ~ chan” teriaknya sambil sesekali melambaikan tangan.
Ayaka beranjak melangkah menghampiri Hitoshi yang telah memanggil namanya dan melambai-lambai padanya. Ia sedikit kerepotan dengan beberapa buku yang ia bawa. Tanpa ia sadari buku diary-nya terjatuh di bawah bangku.
“kau sudah lama menunggu ku?” tanya Hitoshi
Ayaka hanya mengangguk meng-iya-kan jawabannya. Mereka akhirnya pergi ke sebuah toko pernak-pernik tak jauh dari kampus Tohoku.
Menit berikutnya saat mereka berdua telah pergi dari taman, Kenzi dengan dua orang temannya  berjalan ke arah taman. Tak sengaja kakinya menginjak sebuah benda.
“apa ini?” tanyanya.
“buku diary” gumamnya.
Buku bersampulkan bunga matahari itu kemudian ia buka, lembar demi lembar ia baca dengan sangat seksama.
“Daichi ~ kun.. kau tahu siapa itu Ayaka~ chan?” tanyanya kepada salah seorang temannya.
“Ayaka? bukankah ia mahasiswi kesenian semester tiga” jawab Takayama yang duduk di sampingnya.
“ada apa dengan Ayaka ~ chan?”
Kenzi tak menjawab, ia malahan menyerahkan buku bersampul bunga matahari itu. Detik berikutnya ke dua teman Kenzi itu pun melakukan aktivitas yang sama dengan Kenzi sebelumnya.
“ jadi selama ini gadis itu diam-diam mengamati mu” tawa kedua teman Kenzi pecah.
“aku harus membuat perhitungan dengannya besok beraninya ia menguntitku” seringainya.
Kenzi memang tak suka ada orang lain yang mengamati kehidupannya, ia terlihat kaku dan dingin dengan orang-orang di sekitarnya. Hanya beberapa dari mereka yang bisa menjadi teman Kenzi.
                Di lain tempat, Ayaka dan Hitoshi terlihat sedang sibuk memilih beberapa barang yang ada di etalase toko. Ayaka berjalan ke arah salah satu dress yang terpajang di toko tersebut, ia sepertinya tertarik dengan gaun itu karena gaun itu berwarna biru safir, warna favoritnya.
“ kau mau membelinya?” tanya Hitoshi.
“sepertinya aku tertarik dengan gaun ini” balasnya.
“ambilah jika kau mau, biar aku yang membayarnya” jelasnya.
“tapi ini cukup mahal Hitoshi ~ kun” tolaknya.
“tak apa Ayaka ~ chan,anggap saja ini sebagai kado persahabatan kita selama ini dan aku juga baru mendapatkan gaji pertama ku” jelasnya.
“baiklah,jika itu mau mu. Dōmo arigatō gozaimasu Hitoshi ~ kun” ia sedikit membungkuk.
“tapi ada satu syarat.. kau harus memakainya besok”
Ayaka tanpa ragu mengiyakan persyaratan yang di ajukan Hitoshi. Mereka akhirnya membayar barang belanjaan yang telah mereka pilih sebelumnya. Satu jam tangan gold untuk ibu Hitoshi dan gaun biru safir untuk Ayaka.
*****
                Sinar matahari berhasil masuk ke dalam kamar Ayaka melalui cerah-cerah jendela. Ia sedikit terusik dengan cahaya itu.. Ia bergeliat dan duduk di dekat jendela kamarnya, mengamati orang yang lalu lalang di pagi hari dan melihat keindahan bunga sakura yang bermekaran. Kicauan burung di musim semi juga  menambah keindahan pagi itu. Setelah hampir setengah jam ia duduk, akhirnya Ayaka bergegas menuju kamar mandi. Menit berikutnya ia telah berganti dengan gaun biru sapir semata kaki yang telah di belikan oleh Hitoshi kemarin. Ia duduk di depan meja rias dan memoleskan bedak tipis ke parasnya. Setelah di rasa cukup ia merapikan rambut cokelatnya dan segera pergi ke kampus.
Tak butuh waktu lama untuk ia sampai di kampus, hanya butuh 30 menit . Ayaka melangkah dengan pasti tetapi ada sesuatu yang aneh di rasanya. Setiap pasang mata memandang sinis kepadanya.
“apa ada yang salah dengan penampilanku? “ batinnya.
“hei kau.. yang di ujung sana.. yang memakai gaun biru sapir” teriak Kenzi.
Ayaka seolah tak percaya, ia hanya mematung dan tak bergerak seinchi pun.
“kau Ayaka kan?” tanyanya.
“Tuhan mimpi apa aku semalam, Kenzi mengenalku? Apa aku sedang bermimpi tapi kenapa rasanya seperti nyata?” batinnya lagi.
“kenapa kau malahan bengong seperti itu, kaget aku tahu siapa nama mu” Ayaka masih membisu dan ia tak percaya dengan penglihatan dan pendengarannya.
“ini buku diary mu,aku menemukannya kemarin di taman” Kenzi menyerahkan buku bersampul bunga matahari tersebut.
“Kenzi ~ san kau tak membacanya kan?” tanyanya ragu.
“menurutmu” Kenzi balik bertanya.
“dengarkan baik-baik, aku sudah membaca semua isi buku diary mu. Aku juga sudah tahu semua isi rahasia mu, berhentilah menjadi penguntitku karena aku tak suka kau menguntitku selama ini,mengamati setiap gerik ku. Aku tak suka jika ada orang lain mengganggu hidupku” ketusnya.
Semua orang yang mendengar uperkataan Kenzi tertawa sinis dan miris saat melihatnya, cairan bening itu hampir saja jatuh begitu saja dari pelupuk matanya jika Hitoshi tak datang. Hitoshi memakaikan earphone miliknya dan menggenggam erat tangan Ayaka. Detik berikutnya Ayaka berlari pergi meninggalkan Hitoshi yang meradang, ia berlari dalam tangisnya dan sesekali mengusap air mata yang telah membasahi pipinya.
“Ayaka ~ chan...” teriaknya tetapi seseorang yang di panggilnya sudah tak dapat di lihat oleh panca inderanya.
Hitoshi mengepalkan tangannya, ia tak rela jika sahabatnya sekaligus orang yang ia sayangi di permalukan di depan umum.
“kau tak seharusnya memperlakukan Ayaka seperti itu dan tak seharusnya pula Ayaka mencintai seseorang seperti diri mu. Seseorang yang tak punya hati” Hitoshi melayangkan tinjuan di pipi Kenzi hingga kebiruan dan mengeluarkan sedikit cairan merah di sudut bibirnya,
“jika kau tak meminta maaf padanya,aku pastikan salah satu dari kaki mu tak berfungsi dengan baik” ancamnya.
Hitoshi merupakan salah satu atlet karate, ia telah berhasil memegang sabut hitam dan telah memenangkan beberapa kejuaraan lomba karate.
                Ayaka duduk di taman seperti biasa, ia masih menagis. Hitoshi berjalan mendekat, mendekap tubuh Ayaka mungkin dengan cara itu Ayaka sedikit lebih tenang. Ayaka bersandar di bahu Hitoshi dan Hitoshi hanya bisa mengelus-elus rambut cokelat Ayaka.
“seharusnya aku tidak mempunyai perasaan ini Hitoshi ~ kun, andai aku tak memiliki rasa ini pasti aku tak akan merasakan sakit. Cinta bertepuk sebelah tangan memang cinta yang menyedihkan dan sangat menyakitkan” Hitoshi menatap dalam mata Ayaka dan mengusap air mata Ayaka dengan ibu jarinya.
“kau tak boleh menyalahkan perasaan mu Ayaka ~ chan. Seharusnya Kenzi berterima kasih karena telah di cintai orang sebaik diri mu” hiburnya.
“Ayaka ~ chan, apa aku boleh mengatakan sesuatu pada mu. Sebenarnya ini bukanlah waktu yang tepat tetapi aku tak bisa lama lagi memendamnya dan kau juga tak perlu menjawab jika kau belum tahu jawabannya” Hitoshi menggenggam tangan Ayaka kembali menatap manik mata biru Ayaka.
“Ayaka ~ chan.. sejak pertemuan kita pertama kali di high school, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda di sini.. di hati ku. Setiap kali berhadapan dengan mu jantung ini tak berkerja seperti biasanya. Melihat senyum mu membuat kadar oksigen dalam paru-paru ku menipis. Saat bersama mu aku merasa damai. Aku tak henti-hentinya memikirkan mu. Aku tak suka jika kau membicarakan Kenzi. Anata ga daisuki desu Ayaka ~ chan” 
Ayaka terdiam terpaku, ia tak menyangka mendapat penyataan cinta dari sahabatnya sendiri. Ia nyaris tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ayaka menarik napas dalam-dalam, mencoba menjernihkan pikirannya dan detik berikutnya ia bersiap untuk menjawab perasaan Hitoshi.
“maaf Hitoshi ~ kun aku belum bisa membalas perasaan mu, aku terlalu kaget mendapatkan kejutan seperti ini. Aku tak mau menerima mu di saat diriku seperti ini,aku butuh waktu untuk menjernihkan semua pikiran yang ada dalam benak ku saat ini. Terima kasih kau telah sudi mencintai seseorang seperti ku” ucapnya.
Hitoshi memeluk Ayaka erat, tenang.. itulah perasaan Hitoshi saat mendekap erat tubuh Ayaka.
“baikalah,aku bisa mengerti itu semua. Sekarang aku jauh lebih lega karena tak menyimpan perasaanku lagi pada mu Ayaka ~ chan” jelasnya, ia memperlihatkan senyum simpulnya.
“kita masih bisa bersahabat kan? “ tanya Ayaka.
“tentu saja, sampai kapan pun tak ada yang merubahnya” ujar Hitoshi
“yeah, sampai kapan pun. Janji “ mereka saling menautkan jari kelingking mereka dan tersenyum simpul.
                Dalam hidup terlalu banyak hal yang tak terduga dan tak akan pernah terlupakan. Canda tawa dan air mata selalu mengiringi. Cinta bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan tetapi lebih menyakitkan saat kita kehilangan seseorang yang benar-benar menyayangi kita yaitu sahabat.


The End